PWMU.CO – Kajian ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad dan Tirmidzi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم:مَنْ يَأْخُذُ مِنْ أُمَّتِي خَمْسَ خِصَالٍ, فَيَعْمَلُ بِهِنَّ, أَوْ يُعَلِّمُهُنَّ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ ؟ قَالَ : قُلْتُ : أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ, قَالَ : فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّهُنَّ فِيهَا, ثُمَّ قَالَ : اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ, وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ, وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا, وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا, وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ. رواه أحمد و الترميذي

Dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘anhu berkata: ‘Pada suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkumpul dengan para sahabatnya. Lalu beliau bertanya kepada mereka, ‘Siapa yang di antara kalian yang mau tahu lima perkara ini, sekaligus mau mengamalkan dan mengajarkan atau mendakwahkan kepada orang lain?’ 

Tidak ada seorang pun yang menyahut. Abu Hurairah berkata: ‘Saya siap wahai Rasulullah! Maka Rasulullah SAW mendekati dan memegang tangan Abu Hurairah sambil bersabda: (pertama) ‘Hindarilah apa saja yang diharamkan (dalam Islam), niscaya engkau menjadi manusia yang paling rajin, tekun ibadah atau paling bagus kualitas ibadahmu. (Kedua) merasa rela dan senang dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau menjadi manusia yang paling kaya. 

(Ketiga) berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau menjadi mukmin. (Keempat) cintailah orang lain seperti engkau mencintai dirimu sendiri, niscaya engkau menjadi Muslim. (Kelima) jangan terlalu banyak tertawa berlebih-lebihan, sebab hal itu akan mematikan hati. (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Lima Nasihat Rasululah

Rasulullah kerap memberikan nasihat kepada para sahabat, suatu nasihat yang bermanfaat. Nasihat itu sekalipun khitab atau lawan bicaranya cuma kepada satu orang akan tetapi bermanfaat secara umum bagi siapa saja yang mendengarkannya, bahkan tentu untuk kita sebagai umatnya.
 

Nasihat Rasulullah seringkali menggunakan sedikit ungkapan akan tetapi memiliki makna yang sangat luas. Itulah di antara ciri nubuwwah atau kenabian beliau. Para sahabat juga menjadi manusia yang selalu memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menerima arahan beliau dan selalu menepatinya dengan baik. Nasihat Rasulullah tentang lima hal sebagai berikut: 

Hindarilah yang Haram

Pesan pertama Rasulullah kepada Abu Hurairah adalah hindarilah apa saja yang diharamkan (dalam Islam), niscaya engkau menjadi manusia yang paling rajin, tekun ibadah, atau paling bagus kualitas ibadahmu. 

Dalam hal ini ada hubungan antara harta haram dengan kualitas ibadah. Isyarat dalam pesan pertama seseorang yang mengkonsumsi barang haram menyebabkan ibadahnya menjadi malas dan tidak berkualitas. Mungkin secara fisik terlihat disiplin dan berkualitas, akan tetapi dengan petunjuk hadits di atas hal itu tidak dapat menyatu antara harta haramnya dan kualitas ibadahnya.


Hal ini menjadi dorongan bagi setiap mukmin agar senantiasa memahami terhadap prilaku masing-masing, bahwa harta yang selalu diusahakannya itu hendaknya hanya mencari harta yang halal. Sehingga di harapkan akan berperngaruh terhadap kualitas ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rela dan Senang dengan Apa yang Allah Berikan 

Pesan kedua, rela terhadap takaran Allah yang telah ditetapkan kepadanya niscaya menjadikan ia seorang yang paling kaya. Kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dapat ia kumpulkan, tetapi kekayaan itu yang terpenting adalah kaya hati. Seseorang yang bermental miskin, berapapun harta yang miliki akan terasa kurang dan kurang, atau selalu merasa khawatir bahwa harta yang dimilikinya akan habis dan lenyap. 

Padahal merasa memiliki itu saja di dunia ini merupakan sikap yang salah. Hakikat kepemilikan semua ini adalah milik Allah Subhanahun wa Ta’ala. Maka orang yang merasa khawatir akan harta mereka selalu menghitung-hitungnya dan menumpuknya. Dampak berikutnya mereka akan menjadi manusia kikir dan serba perhitungan. Di samping itu akan mudah baginya mencela dan mengumpat kepada orang lain yang dianggap dapat merugikan dirinya.

Allah mengingatkan dan menegur dengan keras prilaku demikian, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ  ١ ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ  ٢ يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ  

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya. (al-Humazah: 1-3)

Berbuat Baik kepada Tetangga

Tetangga merupakan orang-orang yang hidup di sekitar tempat tianggal kita. Merekalah yang dapat menolong ketika kita membutughkannya. Sedangkan saudara kadang berjauhan antara satu dengan lainnya karena factor tempat kerja atau dalam rangka mencari maisyah. Oleh karena itu pesan nabi di atas hendaknya berbuat baik kepada tetangga, niscaya akan menjadi Mukmin.

Mengapa berbuat baik kepada tetangga menjadi Mukmin? Kata mukmin seakar dengan kata aman. Jadi seorang Mukmin adalah seorang yang dalam keamanan, baik keamanan dari Allah maupun sesama manusia. Maka seorang Mukmin adalah orang yang aman dalam kehidupannya, dengan keamanan itu lahirlah hidup yang sejahtera lahir dan batin. 

Dalam hadits yang lain Rasulullah mengingatkan barangsiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaknya ia memiliakan tetangganya. Demikian pula anjuran Rasulullah Ketika seseorang memasak yang ada kuahnya, Rasulullah memerintahkan untuk memperbanyak kuahnya itu agar bisa dibagikan kepada tetangganya. 

Dalam hal ini Rasulullah memotivasi agar umatnya gemar bersedekah kepada tetangganya, memberi hadiah baik kepada yang sebenarnya mampu dan apalagi bagi yang tidak mampu. Dengan saling memberikan hadiah itu menjadikan stumbuh sikap kasih saying sesame tetangga. 

Mencintai Orang Lain

Nasihat keempat, mencintai orang lain seperti mencintai diri sendiri maka akan menjadi orang Muslim. Rasulullah menggambarkan Muslim itu cirinya adalah ketika orang lain selamat dari bahaya lisan dan tangannya. Muslim seakar dengan kata salamah yang dalam bahasa kita disebut selamat. Selamat bagi dirinya maupun orang lain.  

Untuk mewujudkan keselamatan bersama, maka mencintai orang seperti mencintai diri sendiri merupakan keniscayaan. Jika kita ingin selamat maka kita juga harus menjadi penyebab selamatnya orang lain. Artinya keinginan dan harapa dasar setiap orang sesungguhnya sama. Jika kita ingin selamat, aman dan tentram dalam kehidupan ini maka sudah seharusnya kita menciptakan secara Bersama-sama lingkungan kita yang demikian.

Jangan Tertawa Berlebihan

Pesan kelima, jangan bányák tertawa, Tertawa itu sehat, begitu di antara seloroh orang-orang yang suka ngobrol begadang. Tapi pesan Nabi jangan terlalu banyak tertawa dengan berlebih-lebihan, sebab hal itu akan mematikan hati. Dan sebaiknya dihindari tertawa dengan terbahak-bahak, karena biasanya yang terbawa terbahak-bahak itu adalah orang-orang jahat yang berhasil dengan kejahatannya. Dan tertawa demikian seperti tertawanya iblis dan bala tentaranya.

Rasulullah mengajarkan agar kita justru banyak tersenyum. Tersenyum saja cukup tidak perlu tertawa terbahak-bahak. Bahkan senyuman yang tulus lahir dari ketulusan hati merupakan sedekah kepada lainnya. Senyum yang tulus menunjukkan hatinya selalu dalam kondidi jernih, sehingga mudah bersedekah dengan senyuman. Berbeda dengan orang yang hatinya keras dan kaku, akan teras sulit memberikan senyumannya, kalau toh ada senyuman kadang agak dipaksakan. 

Itulah lima wasiat atau nasihat Rasulullah kepada umatnya. Lima nasihat itu singkat dan padat tetapi mengandung makna yang sangat dalam dan sekaligus menjadi pedoman agar dalam kehidupan bermasyarakat kita dapat memposisikan diri secara baik dan benar. (*)

Sumber dari : pwmu.co 22 April 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *