KOMPAS.com – Hari ini 110 tahun lalu, tepatnya 26 Juli 1912, tokoh pendidikan Soerjono atau yang akrab disapa Pak Kasur lahir.

Ia merupakan seorang maestro pencipta lagu anak-anak yang populer hingga kini, seperti Dua Mata Saya, Kebunku, Naik Delman, dan Bangun Tidur. 

Selain pencipta lagu, kecintaan Pak Kasur terhadap anak-anak turut mengantarnya menjadi seorang pendidik.

Dikutip dari Kompas.id, 5 Mei 2019, Pak Kasur selalu melibatkan orang tua yang mengantar anaknya.

Keterlibatan langsung ini bertujuan agar anak-anak tetap bisa merasakan suasana sekolah saat berada di rumah.

Orang tua yang hadir dan menyaksikan pendidikan anak juga bisa melihat kekurangan mereka, dan menolong si anak saat kesulitan di rumah.

Profil Pak Kasur

Pak Kasur, bernama asli Soerjono, merupakan bungsu dari delapan bersaudara. Ia lahir dari keluarga Reksomenggolo di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 26 Juli 1912.

Pak Kasur hobi melawak, hingga teman-teman dan anak-anak senang berdekatan dengannya.

Ia juga mahir bermain bola, dalang, menari, menyanyi, dan bergabung dengan Kepanduan yang kini disebut Pramuka.

Nama Kasur sendiri bermula saat dirinya mengikuti Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Saat menjadi pimpinan, ia dipanggil Kakak Soerjono atau Kak Soer, yang lama kelamaan menjadi Kasur. Dikutip dari Harian Kompas, 28 Juni 1992, Pak Kasur meninggal dunia dalam usia 80 tahun pada Jumat malam, 26 Juni 1992, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Sumber dari : kompas.com 26 Juli 2022

Karier sebagai pendidik

Soerjono atau Pak Kasur menempuh pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS), sekolah Belanda khusus bumiputra pada zaman itu.

Kemudian, ia melanjutkan pendidikan di sekolah lanjutan setingkat sekolah menengah pertama (SMP), Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Kariernya sebagai seorang pendidik dimulai sebagai guru bantu di HIS Ardjoena School, Bantul, Yogyakarta.

Pak Kasur pun melanjutkan pendidikan di sekolah guru bantu atau Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK) di Bandung, Jawa Barat.

Di Bandung, Pak Kasur bertemu dengan Sandiah, dan menikah pada 29 Juli 1946 di tempat pengungsian di Yogyakarta.

Bersama Sandiah atau yang akrab disapa Bu Kasur, mendirikan Taman Kanak-kanak, Taman Putra (SD), dan Taman Pemuda (SMP/SMA).

Dilansir dari Kompas.com, 16 Januari 2022, Taman Kanak-kanak itu kini menjadi TK Mini Pak Kasur yang mempunyai lima cabang di kawasan Jabodetabek, yaitu di Cikini, Cipinang, dan Pasar Minggu (Jakarta), di Kemang (Bekasi), serta di Banjar Wijaya (Tangerang).

Maestro lagu anak-anak

Pak Kasur adalah seorang maestro pencipta lagu anak-anak. Ia sudah menciptakan lagu sejak 1950-an. Salah satunya, Naik Delman yang tercipta pada awal 1954.

Lagu Naik Delman terinspirasi saat ia naik delman dari Sokaraja Wetan ke Purwokerto, untuk mengejar kereta api pertama jurusan Jakarta.

Hingga kini, setidaknya ada 120 judul lagu yang sudah diciptakan Pak Kasur, dengan 66 lagu sudah dibukukan.

Kepiawaian dan kegemarannya bernyanyi bersama anak pula yang mengantarkan Pak Kasur bersama sang istri untuk mengasuh siaran anak-anak di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1952.

Adapun mulai 1960 hingga 1966, pasangan ini turut mengisi acara bertema serupa di TVRI.

Piawai membuat boneka

Sebagai seorang pengajar, Pak Kasur senang membuat bahan ajar sendiri, mulai dari alat peraga, boneka, dan lagu-lagu.

Salah satu yang paling sering dilakukan, yakni membuat dan memainkan boneka sebagai media pembelajaran.

Bahkan, keahliannya dalam memainkan boneka tak hanya disukai anak-anak. Media serupa juga digemari oleh masyarakat umum, yang dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah.

Misalnya, pada awal Januari 1972, Pak Kasur pernah menggunakan sandiwara boneka dalam acara seminar penyuluhan keluarga berencana (KB) di Kemang dan Cilandak, Jakarta.

Kala itu, peserta tampak antusias dan menyimak dengan baik sandiwara boneka yang dimainkan Pak Kasur.

“Main sandiwara boneka tidak boleh lebih dari 30 menit,” kata Pak Kasur.

Menurut Pak Kasur, sandiwara boneka dengan dialog pendek, merupakan media yang tidak membosankan.

Selain itu, dalang juga harus menguasai skenario, tingkatan pendidikan penonton, dan adat-adat di daerah.

Hal lain yang tak kalah penting, imbuh Pak Kasur, yakni harus dapat membuat humor yang mampu mengundang tawa penonton.

https://www.kompas.com/tren/read/2022/07/26/090200865/hari-ini-dalam-sejarah–lahirnya-pak-kasur-tokoh-pendidikan-indonesia?page=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *