Washington D.C., 29 Maret 2022 — Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C., Popy Rufaidah, menyatakan bahwa pihaknya terus mendorong forum pertukaran informasi bagi generasi muda Indonesia tentang pengalaman dan kesempatan studi di Amerika Serikat, serta kolaborasi riset antar peneliti di kedua negara.
 
Mewujudkan hal tersebut, KBRI Washington D.C. menghelat Webinar Bincang Karya (Bianka) Seri-28 Bidang Bisnis, Selasa (29/3), secara daring. “Bianka bertujuan untuk membuka potensi-potensi kesempatan kolaborasi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Selain itu, lewat Bianka, kami ingin mendorong semakin banyak  warga Indonesia yang studi ke Amerika Serikat,” tutur Atdikbud Popy.
 
Acara menghadirkan tiga perwakilan perguruan tinggi terbaik di Amerika. Director of Outreach, Master of Business Administration (MBA) Admissions, Stanford Graduate School of Business, Stanford University, Will Torres, mengungkapkan pihaknya mendukung mahasiswa bukan hanya dari segi akademik tapi juga pendanaan untuk kelancaran studi. “Pembiayaan untuk semua mahasiswa baik domestik maupun internasional ketika diterima di MBA Stanford,” tutur Will.
 
“Ada banyak kesempatan bagi mahasiswa yang diterima di MBA Stanford dalam bentuk magang, bekerja dengan pendiri bisnis, dan atau peluang lainnya, bila Anda adalah seorang pendiri bisnis dan akan mengembangkannya di Amerika,” terang Will.
 
Direktur Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Wisnu Sardjono, mengatakan bahwa bidang bisnis dan kewirausahaan memiliki dampak signifikan dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai karyawan, konsumen, pemasok dan sebagai bagian dari masyarakat keseluruhan.  “Ada 43 penerima beasiswa kewirausahaan di tahun 2021. Mereka akan belajar di sekolah bisnis dunia dan 58% di antaranya berencana untuk belajar di Amerika Serikat,” terang Wisnu.
 
Wisnu juga menambahkan jika untuk pendanaan penelitian 2022, secara kumulatif, LPDP telah membuktikan pendanaan sebanyak 1668 proyek penelitian dengan total dana Rp1,3 triliun dalam penelitian bidang kesehatan, kedokteran, kendaraan listrik, humaniora dan sosial humaniora, teknik, serta penanggulangan bencana.
 
Dihubungi secara terpisah, Ketua Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI), Jamal Wiwoho, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan regenarasi sumber daya manusia bidang bisnis dan kewirausahaan mengingat perkembangan teknologi saat ini yang begitu pesat. “Bidang bisnis ini perlu diisi oleh muda-mudi bangsa yang modern agar dapat menyesuaikan dengan perkembangan jaman apalagi dengan maraknya digital platform. Indonesia harus siap mengikuti perkembangan jaman yang semakin pesat apalagi di dunia bisnis,” tutur Jamal.
 
Selain itu, hadir pula Associate Director, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sloan School of Management, Stephanie Butler. Dikatakan Stephanie, “Saat ini ada beberapa laboratorium mengkaji permasalahan dari perusahaan yang ada, antara lain bidang: kesehatan, kewirausahaan global, manajemen proyek digital, keberlanjutan, dan manajemen bisnis.”
 
Program Director of Master of Sciences in Tourism, Hospitality and Event Management, George Washington University, Cevat Tosun, dalam presentasinya, membagikan pengalaman di tingkat program studi dalam menghadapi pandemi Covid-19. “Saya harus menggarisbawahi bahwa kita benar-benar mengikuti apa yang saat ini terjadi di industri dan dalam konteks Covid-19. Kami secara rutin menyelenggarakan seminar virtual untuk menganalisis tentang dampak Covid-19 pada industri pariwisata. Misalnya, pengalaman suatu hotel bintang lima di Amerika Serikat yang membuka hotel baru selama Covid-19,” tutur Cevat.
 
Sedangkan terkait kolaborasi riset, Cevat mengatakan, “Dalam hal kerja sama penelitian, kami terbuka dan selama liburan musim panas ini antara Mei dan September atau Agustus. Fakultas kami di program kami sangat termotivasi untuk bekerja sama dengan universitas di Indonesia.”
 
Tiga mahasiswa berprestasi Indonesia yang sedang melanjutkan studi di ketiga kampus tersebut hadir berbagi pengalaman tembus studi di perguruan tinggi terbaik dunia tersebut. Fransiska Putri Wina Hadiwidjana, mahasiswa Program MBA, Stanford University sekaligus Penerima Beasiswa LPDP, mengungkapkan, “Kuliah MBA tidak diharuskan melakukan riset karena untuk mendaftar MBA yang dilihat adalah hal apa yang sudah kita kerjakan, serta pengaruh apa yang kita ciptakan. Baik untuk institusi kita berasal atau organisasi,” jelas Fransiska.
 
Ditambahkan Fransiska, ada sejumlah kelebihan belajar MBA di Standford University, yaitu aktivitas pendukung pengembangan karir mahasiswa, baik di dalam maupun luar kampus. “Salah satu programnya diberi nama Arbuckle Fellow. Ini adalah program untuk mahasiswa MBA untuk terpilih menjadi coach bagi mahasiswa MBA yang baru masuk. Unsur terpenting juga adalah menjalin  pertemanan dengan sesama mahasiswa selama kuliah,” tutur Fransiska.
 
Selain itu, Mahasiswa Program Doktoral Bidang Operations Research di Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang juga adalah penerima beasiswa dari MIT, Fransisca Susan, menceritakan perjalanannya menempuh jalur cepat (fast track)  ke program PhD di MIT. Fransisca mengakui dirinya adalah contoh mahasiswa yang diterima studi program doctoral langsung dari tingkat sarjana (S1). “Ini lazim di Amerika, asalkan mahasiswa tersebut sudah mempunyai pengalaman riset sebelumnya,” tutur Susan.
 
Saat ini, Susan sedang fokus pada riset bertopik Designing Data-Driven Algorithms for Online Marketplaces, yaitu perancangan machine learning algoritma berbasis data untuk online market places seperti Amazon, Google dan Facebook. “Contohnya, dalam platform tiket daring, marketplace mengurutkan produk secara optimal berdasarkan profil pelanggan yang datang untuk memudahkan pelanggan mencari dan membeli tiket yang mereka inginkan,” tambahnya.
 
Mahasiswa Master Bidang Tourism, Hospitality and Event Management di George Washington University, Astina Yanti Kabbi, mengungkapkanbahwa dirinya memilih studi di AS karena AS merupakan salah satu negara yang peduli terhadap perkembangan pariwisata. “Saya memilih George Washington University karena dipertemukan dengan beberapa organisasi pariwisata tingkat global dan kurikulum yang sesuai pengembangan pariwisata di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia Timur,” ungkap Astina.
 
Astina yang juga menerima Beasiswa LPDP juga membagikan riset yang tengah dikerjakannya, yaitu terkait sampah plastik. “Topik riset saya adalah the Social, Environmental, and Economic Impact of Waste (Plastic Pollution) in Indonesia, yang bermanfaat dalam menunjang pengembangan pariwisata,” pungkas Astina.
 
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran, Yudi Azis, menjadi pemandu acara yang mendapat dukungan penuh dari LPDP, Kemendikbudristek, serta MRPTNI dan sekaligus sebagai dukungan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka.
 
Rekaman siaran langsung webinar Bianka Seri-28 Bidang Bisnis dengan tautan https://bit.ly/fb-watch-bianka28 dapat diakses di laman resmi Facebook Atdikbud USA.*** (Atdikbud Washington D.C./ Lydia Agustina/ Seno Hartono)

Sumber dari : kemdikbud.go.id 8 April 2022

2 Balas ke “Mahasiswa Indonesia di Amerika Bagikan Pengalaman Kuliah dan Riset di Kampus Top Dunia”

  • Many companies are known for their product development. That is their expertise.

    As senior account executive for business development at Nutritional Products International, I have worked with brands that have created and developed innovative products that consumers would want to buy.

    But these companies don’t have the staff or knowledge to successfully launch their products in the U.S. This is why many domestic and international health and wellness brands reach out to NPI.

    Launching products in the U.S. is our expertise.

    On a daily basis, I research companies in the health and wellness sectors, which is how I came across your brand.

    NPI, a global brand management company based in Boca Raton, FL., can help you.

    Through a one-stop, turnkey platform called the “Evolution of Distribution,” NPI gives you all the expertise and services you need when you launch your product line here. We become your headquarters in the United States.

    What does NPI do? We import, distribute, and market your product line.

    When you work with NPI, you don’t need to hire a U.S. sales and support team or contract with a high-priced Madison Avenue marketing agency.

    NPI, along with its sister company, InHealth Media, collaboratively work to market your products to consumers and retailers throughout the U.S.

    For more information, please reply to this email or contact me at MarkS@nutricompany.com.

    Respectfully,

    Mark

    Mark Schaeffer
    Senior Account Executive for Business Development
    Nutritional Products International
    150 Palmetto Park Blvd., Suite 800
    Boca Raton, FL 33432
    Office: 561-544-071
    MarkS@nutricompany.com

  • Good day,

    If you are one of the sufferers of the common problems nails have, then you are in luck! Our Toenail Clippers is here to help. It has a specially designed clip that can help those with troubles with winding nails, hard nails, two nails, nail cracks, deep nails, and thickened nails.

    We are confident that our Toenail Clippers will provide you with the results you are looking for.

    Get yours today with 60% OFF: https://thepodiatrist.shop

    Many Thanks,

    Hyman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *