PWMU.CO – Shalat Dhuha merupakan satu di antara shalat sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan. Di antara dalilnya hadits Abu Dzar radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Di pagi hari ada kewajiban bagi seluruh persendian kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, dan setiap bacaan takbir adalah sedekah. Demikian juga amar makruf dan nahi mungkar adalah sedekah. Semua ini bisa dicukupi dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak dua rakaat.” (HR Muslim No 720).

Waktu pelaksanaan shalat Dhuha adalah pada saat salat matahari sudah naik kira-kira sepenggal atau setinggi tonggak (maksudnya bukan pada waktu matahari baru terbit, yaitu kira-kira 15-30 menit setelah matahari terbit), dan berakhir menjelang masuk waktu Dhuhur.

Dari Zaid bin Arqam radhiallahu’anhu:

أنَّه رأى قومًا يُصلُّون من الضُّحى في مسجدِ قُباءٍ، فقال: أمَا لقَدْ علِموا أنَّ الصلاةَ في غيرِ هذه الساعةِ أفضلُ، قال: ((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى

Zaid bin Arqam melihat sekelompok orang yang sedang melaksanakan shalat Dhuha. Kemudian ia mengatakan, “Mereka mungkin tidak mengetahui bahwa selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat awwabin hendaknya dikerjakan ketika anak unta merasakan terik matahari” (HR. Muslim No 748).

Dari Amr bin Abasah radhiallahu’anhu, ia berkata:

قدِم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ، فقدِمْتُ المدينةَ، فدخلتُ عليه، فقلتُ: أخبِرْني عن الصلاةِ، فقال: صلِّ صلاةَ الصُّبحِ، ثم أَقصِرْ عن الصَّلاةِ حين تطلُعُ الشمسُ حتى ترتفعَ؛ فإنَّها تطلُع حين تطلُع بين قرنَي شيطانٍ، وحينئذٍ يَسجُد لها الكفَّارُ، ثم صلِّ؛ فإنَّ الصلاةَ مشهودةٌ محضورةٌ، حتى يستقلَّ الظلُّ بالرُّمح

Nabi shallallahu’alaihi wasallam datang ke Madinah, ketika itu aku pun datang ke Madinah. Maka aku pun menemui beliau, lalu aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, ajarkan aku tentang shalat.’ Beliau bersabda: kerjakanlah shalat Subuh. Kemudian janganlah shalat ketika matahari sedang terbit sampai ia meninggi. Karena ia sedang terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah ia meninggi, baru shalatlah. Karena shalat ketika itu dihadiri dan disaksikan (Malaikat), sampai bayangan tombak mengecil.” (HR Muslim No 832).

Bolehkah Shalat Dhuha Berjamaah?

Lalu, apakah boleh shalat Dhuha dikerjakan secara berjamaah?

Terdapat beberapa riwayat yang mengindikasikan bolehnya shalat Dhuha dikerjakan secara berjamaah. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ، عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ: ” ‌أَنَّ ‌رَسُولَ ‌اللهِ ‌صَلَّى ‌اللهُ ‌عَلَيْهِ ‌وَسَلَّمَ ‌صَلَّى ‌فِي ‌بَيْتِهِ ‌سُبْحَةَ ‌الضُّحَى، ‌فَقَامُوا ‌وَرَاءَهُ ‌فَصَلَّوْا ‌بِصَلَاتِهِ “

Dari Az-Zuhri, dari Mahmud bin Ar-Rabi’, dari ‘Itban bin Malik, “Bahwa Rasulullah SAW shalat di rumahnya yaitu shalat dhuha, lalu mereka (para sahabat) berdiri di belakang beliau lalu mereka lalu mereka mengikuti shalat yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam lakukan”. (HR Ahmad, No. 23773).

Hadits di atas dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth berdasarkan persyaratan Bukhari dan Muslim (Ta’liq Syaikh Syu’aib Al Arnauth terhadap Musnad Imam Ahmad, Muassasah Qurthubah, Kairo, Maktabah Syamilah).

Terdapat hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, namun tanpa menyebut shalat Dhuha. 

“Diriwayatkan dari Itban bin Malik—dia adalah salah seorang sahabat Nabi yang ikut perang Badar dari kalangan Ansar—bahwa dia mendatangi Rasulullah SAW lalu berkata: ’Wahai Rasulullah, sungguh aku sekarang tidak percaya kepada mataku (maksudnya, matanya sudah kabur) dan saya menjadi imam kaumku.

Jika musim hujan datang maka mengalirlah air di lembah (yang memisahkan) antara aku dengan mereka, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid untuk mengimami mereka, dan aku suka jika engkau wahai Rasulullah datang ke rumahku lalu shalat di suatu tempat shalat sehingga bisa kujadikannya sebagai tempat shalatku.

Ia meneruskan: Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan kulakukan insya Allah”. Itban berkata lagi: Lalu keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar ash-Shiddiq datang ketika matahari mulai naik, lalu beliau meminta izin masuk, maka aku izinkan beliau.

Beliau tidak duduk sehingga masuk rumah, lalu beliau bersabda: “Mana tempat yang kamu sukai aku shalat dari rumahmu? Ia berkata: Maka aku tunjukkan suatu ruangan rumah”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri lalu bertakbir, lalu kami pun berdiri (shalat) di belakang beliau. Beliau shalat dua rakaat kemudian mengucapkan salam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Pendapat Ulama

Para ulama fikih menyimpulkan bahwa shalat Dhuha dapat dikerjakan secara berjamaah. Di antaranya adalah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Abdul Aziz Ibn Baz, Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dan lain-lain.

Pelaksanaan shalat Dhuha secara berjamaah bisa dilakukan terutama jika ada tujuan pengajaran di dalamnya. Misalnya ketika pembiasaan shalat Dhuha di sekolah. Namun dianjurkan shalat Dhuha secara berjamaah tidak dilaksanakan secara terus menerus.

Juga perlu diingat, sebagaimana shalat sunnah pada umumnya (kecuali shalat id, shalat gerhana, dan shalat istisqa’), shalat Dhuha lebih dianjurkan untuk dikerjakan secara munfarid.

Rasulullah SAW bersabda:

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوتِكُمْ ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَ

“Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat wajib.” (HR Bukhari No 731)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat Dhuha dapat dilaksanakan secara berjamaah, dan lebih utama dilaksanakan secara munfarid (sendirian). (*)

Wallahu a’lam bish shawab.

Sumber dari : pwmu.co 5 Agustus 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *